Selasa, 08 Oktober 2013

Tebing Batu Dinding Kilo Tiga Amurang



Batu Dinding Kilo Tiga, begitulah masyarakat memanggil batuan yang membentuk seperti tirai yang terletak di Desa Kilo Tiga, Minahasa Selatan. Lokasi Batu Dinding Kilo Tiga ini berdekatan dengan salah satu obyek wisata arung jeram yaitu Sungai Ranoyapo. Memang keindahan lokasi wisata sambil berolahraga. Batu Dinding Kilo Tiga adalah batuan besar yang panjangnya mencapai 100 meter lebih dengan ketinggian batu mencapai 70 sampai 90 meter.

Pada dataran batu ini, permukaannya seperti tirai atau juga mirip tumpukan batu yang terbalik. Jadi pada permukaan batu yang lebih tinggi cenderung akan lebih menonjol daripada yang dibawahnya dan hal ini terjadi beberapa kali sehingga terjadi seperti berlapis-lapis batu, semakin kebawah, batu tersebut semakin kedalam.
Dataran batu ini konon katanya terbentuk sudah selama ribuan tahun dan keindahannya juga tidak kalah dengan batuan tebing yang terkenal di benua Amerika, namun karena belum ada bentuk nyata dari pemerintah yang membantu mempromosikan atau mengindahkan lokasi wisata ini. Tempat wisata ini memang lokasi wisata yang cukup ‘eksklusif’. Mengapa? Sebab menikmati batuan ini dengan memanjat atau menaikinya tidak bisa dinikmati oleh semua orang, hanya kelompok umur tertentu dengan kondisi badan tertentu (tidak terlalu tua, tidak terlalu muda untuk melakukan panjat tebing dan juga memiliki badan yang kurang lebih dapat dikatakan atletis), namun tidak ada batasan untuk semua pengunjung yang ingin menikmati dengan melihat atau mengambil foto besamanya.
Yang disayangkan adalah jalan menuju lokasi ini belum begitu terawat hanya terbentuk alami oleh masyarakat setempat. Dana untuk pengelolaan dan perawatan juga tidak ada yang meminta saat pengunjung datang kesini. Sejauh ini semua dilakukan secara sukarela. Namun jangan salah, meskipun belum banyak promosi oleh pemerintah, lokasi wisata ini sudah cukup terkenal dari mulut-kemulut oleh para pecinta alam, sesuai dengan penemunya pertama kali yang merupakan seorang pecinta alam di tahun 1986, sejak itulah lokasi wisata ini mulai terekspose ke public.
Dan jangan salah, lokasi wisata ini sudah menarik beberapa kelompok ‘bule’ pecinta alam untuk mencicipinya. Untuk mendaki tebing ini sampai saat ini ditemukan 9 jalur pendakian, namanya unik-unik. Ada jalur lebah, jalur laba-laba, jalur climb or swim, jalur hang dog, jalur tragedy, jalur teri dan jalur terextreme menurut para pecinta alam adalah jalur malaria dan jalur ratapan. Nama-nama unik tersebut didapat karena kejadian-kejadian yang tidak sengaja dalam pembuatan jalur yang sedang dibuat.
Memilah-milah jalur yang termudah atau yang terfavorit rasanya susah karena dilihat dari medan yang akan dilewati sepertinya semuanya sama dan sepertinya semua sama susahnya, apalagi bagi wisatawan biasa yang bisa digolongkan sebagai pemanjat amatir, rasanya cukup berbahaya tanpa didampingi oleh tenaga profesional. Dan sepertinya memang harus ditemani tenaga profesional dan juga tidak sembarangan orang yang boleh memanjat harus memenuhi beberapa aspek kesiapan tertentu karena memang tidak disediakan jasa persewaan alat panjat tebing disini, jadi jika anda bukan atlet panjat tebing yang sesungguhnya sebaiknya menggunakan tim ahli atau anda hanya akan menikmati dengan melihat-lihatnya saja.
Mendaki lekukan demi lekukan batu semakin keatas dan semakin menonjol dan pemanjat akan sampai ke puncak. Dari puncak yang cukup tinggi ini anda akan disuguhi pemandangan indah yang hijau. Berhektar-hektar kebun dan sawah yang terjajar indah dan juga disambut oleh hamparan biru berupa laut Amurang disebelah utara. Setelah menikmati indahnya pemandangan di puncak Batu dinding biasannya pemanjat menuruninya dengan bantuan sebuat tali panjat dengan sedikit ‘meluncur’.
Tidak banyak wisatawan yang datang berbondong-bondong disini karena untuk mencapainya masih sedikit susah belum tersedia jalan setapak yang sengaja dibuat untuk mendatangi lokasi wisata ini. Keramaian di lokasi ini biasanya pada awal semester baru, sekitar bulan Agustus – September, karena di saat-saat ini para pecinta alam biasanya melakukan diklat atau sejenis pelatihan dasar untuk penyambutan mahasiswa anggota pecinta alam yang baru. Untuk penginapan alam dilokasi ini bisa dilakukan dengan cara berkemah karena lokasinya yang memiliki dataran datar yang cukup luas.
Lokasi disekitar juga bagus untuk digunakan sebagai kegiatan outbond. Namun untuk menemukan lokasi penginapan yang berbentuk rumah bisa ditemui di kota terdekat yaitu kota Amurang. Untuk tempat makan akan banyak ditemukan juga di kota Amurang beserta beberapa titik perkampungan di sekat lokasi wisata.
Mencapai lokasi wisata alam ini anda dapat menggunakan kendaraan sewaan atau pribadi juga dapat menggunakan transportasi umum yang dapat ditemukan dikota Manado tepatnya di terminal Malalayang atau terminal paling besar yaitu terminal Karombasan menggunakan bus jurusan kota Amurang sesampainya dikota Amurang anda sebaiknya menanyakan angkot selanjutnya yang harus dinaiki menuju lokasi Batu Dinding.
Menggunakan angkot anda tidak langsung sampai di Batu Dinding. Di tempat pemberhentian nanti anda harus menggunakan ojek untuk mencapai titik terdekat setelah itu anda tetap harus berjalan kaki untuk menjumpai tirai batu tersebut. Sebaiknya gunakanlah sepatu ‘kets’ dan baju senyaman mungkin juga bawalah semua barang bawaan anda (sebaiknya bawa baju ganti) kedalam sebuah tas ransel untuk memudahkan perjalanan anda.
Namun sebelum melalui semua aktivitas tadi anda harus memikirkan terlebih dahulu aktivitas apa yang akan anda lakukan jika tiba di Batu Dinding, jika ada rencana untuk memanjat coba konfirmasikan kepada agen tour atau lebih mudahnya pada Kelompok Pecinta Alam (KPA) Cliff Hanger Amurang atau menghubungi Forum Komunikasi Pecinta Alam (FKPA) Sulawesi Utara.

Cliff Hanger Gelar Lomba Panjat Tebing

TRIBUNMANADO.CO.ID,AMURANG- Kemampuan  memanjat bagi seluruh pegiat olahraga panjat tebing di Sulawesi Utara  akan kembali diuji. Pasalnya dalam waktu dekat akan digelar kegiatan panjat tebing yang bertema to Support South Minahasa by Rock Climbing Tourism ini dilakukan berbeda dari lomba panjat tebing pada umumnya.

"Lomba ini langsung di tebing alam," jelas Sanly Lendongan ketua panitia, Rabu (22/8).

Ia menambahkan, kegiatan yang digalang oleh KPA Cliff Hanger Kilo Tiga Amurang tersebut memiliki tujuan utama, untuk memperkenalkan potensi wisata di Minahasa Selatan, yang selama ini belum dikelola dengan baik oleh pemerintah."Kami mau tebing batu dinding kilo meter tiga ini bisa dikenal, jadi kami awali dengan membuat lomba," jelasnya.

Peserta lomba, berasal dari hampir seluruh organisasi pecinta alam di Sulut, bahkan dari luar Sulut."Kami sudah sebarkan undangan dari baik lewat surat, maupun internet," jelas dia.

Lomba tersebut, terbagi dalam beberapa kategori di antaranya, Lead Umum Putra dan Putri, Kategori Boulder Putra dan Kategori Pelajar (19 Tahun), dengan hadiah yang pastinya sangat menarik.

Menurut rencana, lomba ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai dari tanggal 22 hingga 25 Angustus 2012. Lomba panjat tebing tingkat provinsi ini merangkul Tribun Manado sebagai media partner, Forum Panjat Tebing Indonesia Minsel ketua John sumual, Cargill, Aqua, Apache.

Diharapkan, dari lomba tersebut, muncul atlit-atlit panjat tebing, yang bisa mewakili Sulut dalam lomba panjat tebing, dan tempat wisata alam batu dinding kilo tiga Amurang bisa dikenal sebagai objek wisata.

 Laporan Wartawan Tribun Manado Alpen Martinus

Jumat, 04 Oktober 2013

KPA Cliff Hanger Amurang Jajal Kompetisi Wall Climbing di Manad

IDMANADO/Manado- Kelompok Pecinta Alam (KPA) Cliff Hanger Amurang, Minahasa Selatan menjajal kompetisi panjat dinding (Wall Climbing) yang digelar Mapala Pahyagaan Fakultas Teknik Unsrat Manado dalam rangka Hut ke 25 yang di mulai tanggal 28-30 Mei 2013 di kampus Unsrat Manado.
Adapun kategori yang diperlombakan diantaranya, tingkat kesulitan (Lead) Pelajar, Lead Umum Putra dan Umum Putri serta kategori speed climbing umum putra.

“Kami mengikutan 5 atlit panjat tebing yakni Devky Dissa, Stenly Mongkareng, Oksan Mansiarang, Stevan Potabuga dan Roxi Diman,” ujar Sekretaris KPA Cliff Hanger Amurang Melky Thomas didampingi Bendahara Billy Ludong, Rabu, (29/05).
Ajang kompetisi ini sekaligus mempromosikan aset wisata Panjat Tebing Batu Dinding Kilo Tiga Amurang. “Atlit panjat kami siap berkompetisi, muda-mudahan mereka boleh meraih prestasi,” pungkasnya.
Peserta yang turut berpartisipasi competisi climbing yang bertajuk pahyagaan silver climbing competition diikuti organisasi pecinta alam dibeberapa daerah yakni Manado, Bitung, Minahasa Utara, Minahasa dan Minahasa Selatan.(Win)

Rabu, 02 Oktober 2013

Profil Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel)

Kabupaten Minahasa Selatan atau yang biasa disingkat Minsel merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara dengan Ibukota Amurang. Jarak dari Amurang ke Manado ± 64 km. Secara geografis, Kabupaten Minahasa Selatan terletak antara 0°,47’-1°,24’ Lintang Utara dan 124°,18’-124°45’ Bujur Timur. Sedangkan secara administratif terletak di sebelah Selatan Kabupaten Minahasa, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
  • Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Minahasa
  • Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Minahasa Tenggara
  • Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow dan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur
  • Barat : Berbatasan dengan Laut Sulawesi
Dalam perspektif regional, Kabupaten Minahasa Selatan  berada pada posisi strategis karena berada pada jalur lintas darat Trans Sulawesi yang menghubungkan jalur jalan seluruh provinsi di Pulau Sulawesi. Demikian pula jalur laut untuk bagian utara, merupakan daerah perlintasan (transit) sekaligus stop over arus penumpang, barang dan jasa pada Kawasan Indonesia Tengah dan Kawasan Indonesia Timur, bahkan untuk Kawasan Asia Pasifik. Sementara untuk jalur laut bagian selatan, sangat strategis untuk pengembangan produksi perikanan di Kawasan Timur Indonesia.
Wilayah Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel)sebagian besar mempunyai topografi berbukit-bukit/pegunungan yang membentang dari utara ke selatan, berpantai dan dataran rendah bergelombang dengan ketinggian 0 meter (daerah pantai) sampai dengan 1.500 meter dpl.

Sejarah Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel)

Logo Kabupaten Minahasa Selatan Logo Minsel Profil Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel)
Sejalan dengan bergulirnya nuansa reformasi dan implementasi kebijakan otonomi daerah, muncul aspirasi masyarakat di berbagai daerah yang menginginkan pemekaran wilayahnya, baik propinsi maupun kabupaten/kota. Demikian pula masyarakat di Minahasa Selatan yang menginginkan pemekaran wilayahnya menjadi daerah otonom yang baru.
Maksud pemekaran daerah ini pada prinsipnya adalah untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna dalam rentang kendali (span of control) penyelenggaraan tugas pemerintahan, pelaksanaan pembangunan serta pembinaan dan pelayanan masyarakat. Sedangkan tujuannya adalah terwujudnya peningkatan pengelolaan potensi daerah secara lebih optimal, terwujudnya peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat, terwujudnya pengembangan kehidupan demokrasi dan peran masyarakat serta rasa keadilan dan pemerataan pembangunan. Selain itu, untuk lebih mendayagunakan pencapaian tujuan pemberian otonomi daerah yang pelaksanaannya memperhatikan potensi daerah, keanekaragaman dan kepentingan masyarakat di daerah, guna kesejahteraan masyarakat.
Aspirasi masyarakat Minahasa Selatan (Minsel), secara positif disikapi dan diakomodasikan oleh Pemerintah bersama DPRD Kabupaten Minahasa. Setelah melalui kajian (seminar, diskusi, panel, dialog) dan melalui proses sesuai aturan perundangan yang berlaku, aspirasi ini disetujui oleh DPRD Kabupaten Minahasa melalui surat Nomor 170/DPRD/122/2000 tanggal 23 Maret 2000 tentang Rekomendasi Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon. Berdasarkan rekomendasi tersebut, Bupati Minahasa menyampaikan surat Kepada Ketua DPRD Kabupaten Minahasa Nomor 458/B.MIN/IX-2001 perihal Hasil Kajian Awal Pemerintah Daerah dalam Rangka Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan.
Setelah melakukan pengkajian, DPRD Kabupaten Minahasa mengeluarkan persetujuan prinsip dengan surat Nomor 19 Tahun 2001 tanggal 28 September 2001 tentang Persetujuan Prinsip DPRD Kabupaten Minahasa dalam rangka Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan. Selanjutnya, Bupati Minahasa menyampaikan usulan pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan kepada Gubernur Sulawesi Utara melalui surat Nomor 530/B.Min/XI-2001 tanggal 26 November 2001. Kemudian, atas pertimbangan dan persetujuan DPRD Propinsi Sulawesi Utara yang tertuang dalam Keputusan DPRD Propinsi Sulawesi Utara Nomor 6 Tahun 2002 tentang Persetujuan Dukungan Terhadap Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon, Gubernur Sulawesi Utara menindaklanjuti usulan pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan tersebut kepada Pemerintah Pusat.
Dalam proses selanjutnya di tingkat pusat, usulan pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan bersama Kota Tomohon menjadi usul inisiatif DPR-RI. Guna melengkapi data dan masukan secara empirik, Tim Komisi II DPR-RI melakukan peninjauan lapangan pada tahap awal yang selanjutnya diikuti oleh Tim Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) Pusat. Setelah melalui proses persetujuan DPR-RI, pada tanggal 27 Januari 2003, Minahasa Selatan ditetapkan sebagai salah satu daerah otonom yang baru di Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2003 tanggal 25 Februari 2003 yang mencakup 13 kecamatan. Usulan pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon diproses bersama-sama dengan 25 calon kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Untuk mengimplementasikan amanat Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2003, melalui keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 131.51-421 tangal 25 Juli Tahun 2003, pada tanggal 4 Agustus 2003 di gedung DPRD Kabupaten Minahasa-Tondano, Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden Republik Indonesia meresmikan Kabupaten Minahasa Selatan menjadi daerah otonom yang baru sekaligus melantik Drs. Ramoy Markus Luntungan, Pangkat/Golongan Ruang Pembina Utama Madya (IV/d), NIP. 010 076 798, sebagai Penjabat Bupati Minahasa Selatan.
Konsekuensi logis dari peresmian Kabupaten Minahasa Selatan sebagai suatu daerah otonom yang diikuti oleh pelantikan Penjabat Bupati adalah merupakan awal dari dimulainya penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat di Kabupaten Minahasa Selatan.
Bupati Minahasa Selatan 
Sejak memekarkan diri dari Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan(Minsel) telah mengalami beberapa kali pergantian bupati. Ramoy Markus Luntungan merupakan bupati pertama Kabupaten Minahasa Selatan (2003-2005 pejabat sementara) dan periode 2005-2010 sebagai bupati pertama pilihan rakyat. Sedangkan untuk periode 2010-2015, Christiany Eugenia “Tetty” Paruntu menjadi pilihan masyarakat Minahasa Selatan melalui pemilihan umum yang berlangsung 2 putaran.
Selain Ramoy Markus Luntungan (RML) dan Christiany Eugenia “Tetty” Paruntu, Kabupaten Minahasa Selatan pernah dipimpin oleh beberapa pejabat Bupati diantaranya H.D Waworuntu, Asiano Gamy Kawatu dan Mecky Onibala
Jumlah Penduduk Kabupaten Minahasa Selatan
Berdasarkan data yang didapat dari website BPS (minselkab.bps.go.id) jumlah penduduk Kabupaten Minahasa Selatan berdasarkan Sensus Penduduk 2010 sebanyak 195.553 jiwa, terdiri dari 94.507 laki-laki dan 101.046 perempuan. Jumlah penduduk terbanyak berada di kecamatan Tenga dan yang terendah berada di kecamatan Kumelembuai.
Jika dilihat dari piramida penduduk yang menggambarkan karakteristik jumlah penduduk menurut kelompok umur, sebagian besar penduduk di Minahasa Selatan berada pada usia produktif, yaitu 15-64 tahun. Sumber daya manusia yang melimpah ini merupakan suatu keuntungan yang sangat besar bagi keberhasilan pembangunan di Minahasa Selatan, mengingat penduduk produktif berpeluang lebih besar untuk bekerja dan menghasilkan pendapatan dibandingkan kelompok umur lainnya.

Tempat Wisata di Minahasa Selatan (Minsel)

Minsel menyimpan potensi wisata yang tidak kalah indah dengan kabupaten/kota lainnya di Sulawesi Utara. Bagi anda yang gemar dengan wisata bahari, anda bisa berkunjung ke Pantai Moinit, Pantai alar, Pantai Wawontulap, pantai Batu Kapal dan berbagai pantai lain yang tak kalah indahnya. Bagi anda yang gemar dengan olahraga yang agak menantang bisa mencoba wisata arung jeram di sungai Maruasey ataupun panjat tebing di Batu Dinding yang terletak di desa Kilo 3. Sedangkan apabila anda menyukai daerah pegunungan, anda bisa mencoba berwisata ke Modoinding.
Itulah Profil singkat Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) sebuah kabupaten dibagian selatan tanah Minahasa yang kaya akan sumber daya alam yang kami rangkum dari berbagai sumber salah satunya dari website resmi Pemerintah Kabupaten Minahasa selatan yang beralamat di minselkab.go.id

Sumual Tutup Panjat Tebing KPA Cliff Hanger 2012



Amurang, (Buser Kriminal)
Rangkaian kegiatan bertajuk To Support South Minahasa by Rock Climbing Tourism yang digagas Kelompok Pecinta Alam (KPA) Cliff Hanger Kilo Tiga Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan resmi ditutup oleh Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Cabang Minsel, John RM Sumual, SE, SH, Sabtu (25/8/2012).

Sebagai penutup kegiatan yang dihelat mulai 17 sampai 25 Agustus 2012, adalah finalis 4 kategori panjat tebing (rock climbing) masing-masing lead putra dan putri, kategori pelajar 19 tahun dan boulder.
Ketua FPTI Minsel John RM Sumual yang juga Wakil Ketua DPRD Minsel menyatakan selamat kepada para pemenang lomba di empat kategori yang dilombakan, “Trophy dan uang pembinaaan ini kiranya menjadi motivasi tersendiri untuk lebih berprestasi lagi, terlebih mampu membawa nama baik daerah khususnya di bidang olahraga panjat tebing,” ujar Sumual yang diaminkan Sekretaris FPTI Minsel Andy Wurarah.

Sementara itu, Ketua Panitia Sanly Lendongan didampingi sekretaris Ricky Ulaan menyatakan terima kasih atas keikutsertaan dan partisipasi dalam kegiatan . “Tak lupa juga kami menyampaikan terima kasih atas dukungan yang baik Pemkab Minsel, PT Cargill Indonesia Amurang, Apache, Aqua dan FPTI Minsel, FKPA Sulut, FKPA Minsel dan Yonif 712 Kompi Senapan C Minsel,” kata Lendongan yang juga adalah jurnalis di salah satu media lokal Sulut.

Pemenang di 4 kategori Boulder, juara I Stevan Potabuga KPA Cliff Hanger Amurang Minsel, juara II Octries Katameri MPA Areca Vestiaria Manado, juara III Ronald Momongan KPA Katsuwonus Bitung.
Kategori lead putra, juara I Octries Katameri MPA Areca Vestiaria Manado, juara II Stevan Potabuga KPA Cliff Hanger Amurang Minsel, juara III Ronald Mamongan KPA Katsuwonus Bitung. Lead putri, juara I Angela Tambahani MPA Aesculap Manado, juara II Jouneer Lopulalan MPA Justitia Manado, juara III Merry Pesiwarissa MPA Justitia Manado.

Kategori pelajar, juara I Frendy Tapada KPA Cliff Hanger Amurang Minsel, juara II dan III Trivena Parapak dan Micael Rompas Amurang Climber Team (ACT) Lopana. Tim teknis, ketua juri Said Banteng dan pembuat jalur Steven Mamesah.  *NOVY

Peduli Generasi Muda, PT Cargill Amurang Bantu KPA Cliff Hanger



Amurang, KOMENTAR - PT Cargil Indonesia Amurang memang begitu peduli terhadap pengembangan generasi muda, baik di bidang pendidikan maupun dunia olahraga. Salah satunya olahraga yang dikenal ekstrim, yakni panjat tebing (rock climbing). Pihak PT Cargill membantu seperangkat peralatan panjat tebing.
 
Serah terima peralatan dilakukan langsung oleh Plant Manager PT Cargill Indonesia Amurang Lindung Samosir kepada Kelompok Pecinta Alam (KPA) Cliff Hanger Amurang yang di-terima oleh ketua Sanly Lendongan didampinggi anggota Ricky Ulaan.
Maksud diberikannya bantuan ini, guna menopang ke-beradaan objek wisata Tebing Alam Batu Dinding di Desa Kilometer Tiga Amurang, Min-sel, sekaligus memotifasi ge-nerasi muda untuk meng-angkat citra pariwisata mela-lui olahraga panjat tebing.
 
Apalagi tebing alam adalah salah satu terbaik di dunia yakni terbaik ke dua di du-nia dari segi kesulitan jalur pemanjatanya. Meski begitu masih ada sejumlah jalur menengah dan mudah un-tuk pemanjat pemula, pela-jar, generasi muda dan ma-syarakat yang ingin menjajal tebing kilo tiga sebutan batu dinding yang begitu eksotik. Bagaikan tangga terbalik dengan kontur bebatuanya pun sangat keras dari jenis batu andesit, sangat disa-yangkan kalau tidak dikem-bangkan potensi yang men-janjikan ini.
“Bantuan peralatan ini gu-na pengembangan minat khusus olahraga panjat te-bing, terlebih menunjang ob-jek wisata alam batu din-ding. Fasilitas tambahan ini kiranya mampu mencip-takan atlit-atlit berprestasi di bidang olahraga panjat tebing, dan diharapkan mampu membawa nama ha-rum Minahasa Selatan,” ucap Lindung Samosir
 
Lindung menambahkan, dengan dilakukan berita acara serah terima peralatan panjat tebing di kantor Cargill Amurang, maka se-cara resmi peralatan yang di-maksud menjadi milik Ke-lompok Pecinta Alam (KPA) Cliff Hanger kilometer Tiga Amurang. “Nah, kiranya alat tersebut dapat dijaga dengan baik guna pengembangan atlit panjat tebing agar lebih berprestasi lagi,” imbuhnya.
 
Sementara itu, Ketua KPA Cliff Hanger Sanly Lendongan mengatakan, peralatan yang diberikan tentu dapat memacu dan meningkatkan pengembangan atlit. “Apalagi, olahraga panjat tebing bukan saja populer di mata masyarakat Minsel dan Sulut, tapi ki-ranya dapat memotivasi pemanjat untuk meraih prestasi lebih baik lagi ke depan,” ujar Lendongan didamping anggota KPA Cliff Hanger Ricky Ulaan.
 
Lendongan berharap, sektor swasta sangat berperan dalam menopang kepariwi-sataan di Minsel. Namun akan lebih baik lagi, jika pe-merintah dapat mem-fasili-tasi sarana penunjang. Dian-taranya, infrastruktur jalan serta fasilitas lainya berupa gasebo-gasebo dan pemeliha-raan aset wisata yang bisa menghasilkan pendapatan bagi daerah ini. Ia pun me-nyatakan selamat kepada anggota KPA Cliff Hanger yang berhasil menjuarai 3 kategori dari 4 kategori yang diperlombakan. Bantuan PT Cargill Amurang selain me-nyumbangkan perlengkapan panjat tebing juga berupa bibit pohon yang sementara dilakukan penanaman seca-ra regular.(vtr)

Selasa, 01 Oktober 2013

Mocktar Setuju Panjat Tebing Setiap Tahun Dilaksanakan



 Ketua Umum Pusat FPTI dan Bupati Minsel Tetty Paruntu saat menandatangani diatas kain putih

Bupati Tetty Paruntu, Ketua Umum PP FPTI Akil Mocktar dan Ketua Umum Panitia Jamnas 2013 Kristovorus Decky Palinggi saat menandatangani diatas kain putih. (foto beritamanado)
Amurang—Ketua Umum PP Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Prof Dr Akil Mocktar, SH MH diundang Panitia Jambore Nasional Panjat Tebing & Vertical Rescue (Jamnas PT & VR) tahun 2013 di Objek Wisata Batu Dinding Desa Kilometer Tiga Kecamatan Amurang. Kedatangan Hakim Agung Mahkamah Konstitusi ini untuk memberi beberapa materi tentang Panjat Tebing bagi peserta dari seluruh Indonesia.
Menariknya, Sabtu (26/1) kemarin, adalah hari keempat Jamnas PT & VR 2013 di Minsel Ketua Umum PP FPTI Prof Dr Akil Mocktar bersama Bupati Christiany Paruntu, SE, Ketua Umum Panitia Jamnas PT & VR 2013 Kristovorus Decky Palinggi, SE, Ketua FPTI Sulut Richard Sualang dan Ketua FPTI Minsel Johny Sumual, SE SH melakukan penandatanganan diatas kain sepanjang 15 meter.
Tujuang penandatangan diatas kain putih sepanjang 15 meter tersebut pertama untuk mendukung Jamnas PT & VR dilaksanakan setiap tahun di seluruh Indonesia. Dan menjadi pelopor pelaksanaan Jamnas adalah Kabupaten Minsel. Pasalnya, Batu Dinding atau Tebing Batu ini adalah tertinggi dan tersulit di Indonesia.
Bupati Tetty Paruntu merespon kegiatan ini. Termasuk diantaranya, akan dilakukan lebih profesional pada tingkatan lebih tinggi. ‘’Ya, Pemkab Minsel siap mendukung pelaksanaan Jamnas dilaksanakan setiap tahun. Bahkan, pelaksanaan kegiatan ini juga bisa ditingkatkan lebih kelevel tingkat Asean. Dan Pemkab Minsel akan mendukung pelaksanaan, kalau juga tahun 2014 Minsel akan jadi tuan rumah. Maka, Pemkab Minsel siap melaksanakannya,’’ ujar bupati Paruntu.
Pantauan media ini, sekitar 300-an peserta bersama panitia dan warga Desa Kilometer Tiga ikut menandatangani persetujuan diatas kain putih sepanjang 15 meter di Pantai Alar-Pondang Kecamatan Amurang Timur. (and)

Penulis: ape | 27/01/2013.